Perbedaan adalah rahmat

Perbedaan adalah rahmat… 15.08.2008 by Slamet Widodo Category Sok kyai, Sok ngerti, Sok serius, Tentang Kiai Viewed 1550 times. Maaf, agak panjang. Edisi Khutbah Jum’at ala Kyai Slamet nih… Seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal di negara kita pasti menimbulkan sedikit keguncangan. Perbedaan dalam penetapan tanggal nan penting bagi umat Islam ini seolah sudah menjadi pola yang akan terus berulang. Terkadang dengan sedikit bumbu yang ditambahkan oleh media massa, seolah perbedaan ini begitu dahsyat. Padahal perbedaan ini seharusnya dapat disikapi sebagai suatu hal yang biasa dan wajar dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Bukan sesuatu yang perlu dirisaukan. Terlepas dari masih pro kontranya status hadits Ikhtilaafu ummatii rahmah, saya masih berkeyakinan bahwa perbedaan memang sebuah rahmat. Namun bukan berarti sebaliknya, persatuan atau persamaan adalah adzab. Bukan, bukan sama sekali! Perbedaan akan membawa kita untuk saling menghargai. Perbedaan pendapat menjadi suatu hal yang lumrah ketika tiap-tiap manusia berpikir. Bukankah kita diperintahkan untuk selalu berpikir. Sesuatu yang masih “samar” dalam Qur’an dan hadits merupakan sebuah perintah rahasia dari Allah kepada hambaNya untuk senantiasa memutar otak. Ide penyatuan kalender Islam masih menjadi suatu cita-cita nan mustahil diwujudkan. Kenapa? Masing-masing pendapat, baik hisab maupun rukyat mempunyai dasar masing-masing. Pengertian rukyat pun masih dapat diperdebatkan. Apakah mata telanjang atau dengan alat bantu? Batas “mungkin terlihat” juga masih dapat diperdebatkan. Wajar! Di jaman Nabi Muhammad, belum ada teleskop yang berkemampuan prima. Dan yang utama, belum ada google dan kawan-kawannya! Saya pribadi tetap memegang teguh “perbedaan adalah rahmat” dalam kehidupan beragama keluarga saya. Saya bukan NU atau Muhammadiyah, bukan pula HTI atau Triple C (Club Celana Cingkrang)! Saya muslim biasa! Sedikit gambaran tentang indahnya perbedaan dalam keluarga saya. Saya terbiasa tidak membaca doa qunut (do’a yang dibaca selepas bangkit dari rukuk pada rakaat terakhir) ketika sholat shubuh, sedangkan istri saya terbiasa melafalkannya. Lalu sebagai imam sholat, apakah saya dengan serta merta menghilangkan kesempatan istri saya untuk membaca qunut? Tidak. Selalu ada jalan menuju Surga. Selepas i’tidal (bangkit dari rukuk) terakhir, saya memberi waktu kepada istri untuk melafalkan doa qunut. Lalu saya ngapain? Ya diam saja! Bukan itu saja. Kami terbiasa berpuasa dan berhari raya tidak bersama-sama. Saya selalu berpatokan dengan siaran resmi PP Muhammadiyah, walaupun saya bukan fans Din Syamsudin. Sedangkan istri selalu bersandar pada “siaran resmi” masjid di lingkungan rumah kami. Jadi ketika saya sudah melakukan sholat idul fitri di kampus UMM, istri saya masih berpuasa dan santai di rumah. Sebaliknya keesokan hari, ketika istri berangkat sholat idul fitri di masjid perumahan, saya duduk manis berbalas SMS di rumah. Perbedaan adalah hal yang biasa. Lha pas coblosan pilgub kemarin saja, saya dan istri sama-sama tidak tahu pilihan masing-masing kok! Ya, pilgub kemarin saya menggunakan hak pilih. Saya tidak suka golput tapi lebih tidak suka fatwa haram golput. Kelihatannya pilihan kami beda sih, lha saya nyoblos Kaji ups… keceplosan! 😀 Apakah saya gagal menjadi imam di keluarga? Tidak menurut saya. Justru saya gagal, apabila saya memaksa istri mengikuti pendapat saya. Ingatlah bahwa pendapat ulama-ulama besar itu pun “hanya” hasil ijtihad yang masih belum tentu benar salahnya bukan? Seperti yang dijanjikan Allah, benar salah dalam ijtihad bakal mendapatkan satu pahala. Namun kelak, ketika sidang pengadilan akhirat akan diumumkan siapa yang benar dan berhak mendapatkan bonus satu pahala lagi. Jadi, kenapa harus bacok-bacokan untuk memperebutkan kebenaran? Oh, ya sedikit cerita tentang indahnya perbedaan. Imam masjid agung Tuban terdiri dari beberapa orang yang berbeda versi tarawihnya. Ada imam versi 20 dan versi 8 rakaat. Apakah terjadi peperangan di Tuban? Tidak. Ketika shalat dipimpin oleh imam versi 20 rakaat, mereka yang lebih sreg versi 8 rakaat pun mengikuti jalannya shalat. Namun setelah rakaat yang kedelapan, mereka beranjak pulang atau duduk-duduk di serambi masjid menunggu shalat witir. Ketika shalat witir dilaksanakan, mereka kembali bergabung mengikuti shalat. Sebaliknya ketika giliran imam versi 8 rakaat, mereka yang lebih suka shalat tarawih 20 rakaat akan keluar dari barisan pada saat shalat witir dilaksanakan. Kemudian mereka melanjutkan tarawih lagi selepas para jamaah versi 8 rakaat beranjak pulang. Oh, indahnya. Terkadang para elitlah yang harus belajar dari lingkup yang lebih kecil, entah keluarga atau sekelompok wong cilik lainnya. Yah, semakin elit semakin tidak sempat untuk belajar. Terlalu sibuk rupanya. Bagaimana saudaraku, masihkah engkau memaksakan pendapat kepada orang lain? Sholat Jum’at yuk….!

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: